Senin, 07 Oktober 2013

Pola Asuh Anak yang Salah



Siapa diantara Anda yang pernah melihat film berjudul “I Not Stupid Too 2” ?

Film tersebut adalah film singapura tahun 2006 dan merupakan film yang bergenre komedi. Film ini menggambarkan kehidupan nyata pendidikan orang tua kepada anak-anaknya yang dianggap benar tetapi mereka salah besar dalam mendidik anak. Dibintangi oleh 3 aktor anak berusia sekitar 8-15 tahun, film ini begitu menyentuh dan tergambar nyata betapa buruknya pola pengasuhan anak di dalam masyarakat kita. Seharusnya film ini bisa dijadikan contoh untuk para orangtua dan pendidik di sekolah dalam memahami seorang anak.
Sebagai orangtua, menasihati anak memang penting supaya anak tidak berprilaku nakal. Tetapi, cara orangtua dalam menasihati anak itu yang salah. Untuk dapat membuat anak mau mendengarkan Anda sebagai orangtua, maka latihlah mereka untuk mendengarkan Anda sejak dini. Anda juga harus mau mendengarkan mereka dan berkatalah selembut mungkin kepada mereka supaya mereka memahi apa yang Anda inginkan dari mereka.

KALIMAT POSITIF
Menurut Dr. Rose Mini A.P., M.Psi., psikologi anak, Si kecil hanya tertarik mendengar hal yang menyenangkan. Jadi, cara Anda menyampaikan nasihat pun perlu diubah, sehingga tak terkesan memerintah, menyuruh, menegur, ataupun melarang. Hindarilah menggunakan kata negatif seperti “jangan” atau “tidak boleh”. Ganti kata-kata tersebut dengan yang lebih positif, seperti, “Boleh kok kamu makan cokelat. Tapi bagaimana kalau kita makan nasi dan ayam dahulu, baru setelah itu makan cokelat?”

Teriakan orangtua mungkin berhasil bagi beberapa anak. Namun, tidak ada seorang anak pun yang akan menikmati proses tersebut. Kebanyakan anak akan lebih mendengarkan jika Anda menyampaikannya dengan diselingi humor. Misalnya, Anda menyampaikannya dengan suara yang konyol atau berbicara dengan nada sebuah lagu yang diganti liriknya. Cara ini lebih menyenangkan dibandingkan dengan ucapan, “Sikat gigimu nanti gigimu akan bolong!” atau malah “Sikat gigimu SEKARANG!”. Selain itu, gunakan juga kata-kata pendek atau sederhana dan tidak terlalu berbelit-belit. Semakin Anda bertele-tele, maka Si Kecil akan semakin menutup telinganya.

KONTAK MATA
Posisikan badan Anda sejajar dengan Si Kecil ketika berbicara. Dengan begitu, perhatiannya lebih mudah terfokus dan menangkap pesan Anda. Jika ia terlihat tidak memperhatikan, sentuhlah untuk menarik perhatiannya. Kalau perlu, dekap Si Kecil saat Anda mengajaknya berbicara. Jangan sekalipun meminta Si Kecil untuk melakukan sesuatu selagi Anda beraktivitas, misalnya sambil menonton televisi atau membaca koran. Hal ini akan membuat Si Kecil merasa dirinya tak penting, sehingga omongan Anda pun dianggapnya tak penting. Adanya kontak mata juga menandakan Anda bersungguh-sungguh dengan apa yang Anda ucapkan.

LAKUKAN BERSAMA
Saat melihat mainan Si Kecil berantakan di seluruh ruang keluarga, tak akan efektif bila Anda hanya menyuruhnya membereskan semua. Alangkah bijak jika Anda berkata, “Ayo, kita bereskan mainannya.” Dengan begitu, unsur perintah lebih tersamar. Sekali lagi, anak membutuhkan contoh nyata dari orangtua. Langkah ini juga memupuk sikap mandirinya, sekaligus mengajarkan bagaimana menjalin kerja sama. Dengan bahu-membahu, maka pekerjaan akan lebih cepat selesai.

PERKUAT PESAN
Ketika Anda menyampaikan sesuatu kepada Si Kecil, lakukanlah hal lain sebagai penekanan. Misalnya mengatakan, “Sudah waktunya tidur”, berikan isyarat visual dengan mematikan saklar lampu. Anda juga bisa meletakan tangan di bahunya agar ia mengalihkan perhatian dari bonekanya kepada Anda. Demonstrasikan juga pesan Anda, misalnya dengan menuntun ke tempat tidurnya dan menarik selimut.

Imbalan dan pujian sebagai perangsang
 Saat melihat kreativitas dalam diri anak, kita akan langsung termotivasi, “Saya harus membantunya agar lebih kreatif.” Selanjutnya kita akan ikut campur, memuji, dan memberinya imbalan. Kita percaya bahwa motivasi yang berakar dari keinginan merai nilai bagus, mendapat piala atau menjadi lebih baik dibandingkan orang yang duduk di kursi sebelah, adalah kekuatan positif dan kita pun berubah menjadi anode + yang mencoba memancarkan getaran positif sebanyak mungkin. Yang kita lupakan kreativitas adalah proses intrinsik, sementara imbalan yang kita tawarkan itu ekstrinsik.
F. David Peat, seorang pemrakarsa di bidang ini membedakan kedua jenis motivasi tersebut – motivasi intrinsik dijabarkan sebagai motivasi untuk melakukan sesuatu, untuk kesenangan dan kenikmatan melakukan suatu tugas, sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan motivasi melakukan sesuatu demi tujuan eksternal. Menurut Amabile (1983, 1995), “Motivasi intrinsik kondusif bagi kreativitas sedangkan motivasi ekstrinsik hampir selalu merugikan.” Penelitian menunjukan bahwa seiring meningkatnya motivasi ekstrinsik, motivasi intrinsik pasti menurun, dan akibatnya kreativitas juga menurun. Imbalan dan pujian membuat anak-anak mencari persetujua; mereka akhirnya melakukan sesuatu untuk membuat orang lain terkesan, alih-alih melakukannya untuk diri mereka sendiri. Pada 1973, pemrakarsa upaya penelitian ini, Lepper, Greene, dan Nisbett menyelidiki dampak imbalan yang diharapkan terhadap motivasi anak-anak dan penampilan artistik. Para peneliti ini menemukan bahwa, “Awalnya anak-anak usia prasekolah menunjukan minat yang tinggi terhadap menggambar dengan pensil warna ajaib. Namun, ketika diminta menggambar demi mendapat gelar Pelukis Terbaik, minat mereka untuk menikmati tugas tersebut menurun secara signifikan.

Itulah beberapa referensi tentang perkembangan dan pendidikan anak yang tepat. Seharusnya sebagai orang tua kita tidak hanya mengajari anak, tapi kita juga harus belajar bagaimana cara mendidik anak yang sesuai dengan tumbuh kembang anak dan cara pikir seorang anak. Jadilah contoh yang baik untuknya jika kita menginginkan anak kita menjadi seperti yang kita inginkan. Mungkin cukup dari saya, semoga artikel kali ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.

Salam Alohaaaa.... :D

Sumber :
Film “I Not Stupid Too 2” oleh MediaCorp Raintree Pictures
Majalah Mother & Baby edisi September 2013
Buku “Roots & Wings 1” oleh Raksha Bharadia, penerbit PT Gramedia

Tidak ada komentar :