Minggu, 07 April 2013

Basa Jawa ing Kurikulum 2013



Pada tanggal 4 april 2013 tepatnya hari kamis, saya mengikuti seminar regional “Basa Jawa ing Kurikulum 2013”. Seminar yang diadakan oleh jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang ini bertempat di gedung B6 FBS Unnes. Seminar ini dihadiri oleh guru-guru, dosen bahasa jawa, mahasiswa, pemerhati budaya dan umum.  Seminar tersebut diadakan atas latar belakang pemerintah pusat yang akan mencanangkan Kurikulum 2013 yang dikabarkan bahwa bahasa Jawa akan diintegrasikan ke dalam muatan lokal lain, yakni seni dan budaya. Hal tersebut membuat berbagai pro dan kontra para tokoh pendidik, berbagai pertanyaan dan perdebatan kian ramai diperbincangkan. Jadi, seminar ini bertujuan untuk menjawab posisi strategis dan urgensi mata pelajaran bahasa Jawa pada Kurikulum 2013.
Tema seminar regional tersebut “Meneguhkan Pelajaran Bahasa Jawa di Kurikulum 2013”. Pembicaranya Prof. Dr. Suwarna, M.Pd. (dosen dan peneliti bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta), Dr. Teguh Supriyanto, M.Hum. (dosen sastra Jawa FBS Universitas  Negeri Semarang), Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si. (Rektor Universitas Negeri Semarang). Acaranya sendiri dimulai pukul 08.00 yang diawali dengan sambutan ketua jurusan bahasa dan sastra Jawa yaitu Bpk Yusro Edi Nugroho, S.S, M. Hum, kemudian dilanjut oleh Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si.
Acara inti pembahasan seminar ini diawali oleh pembicara pertama, yaitu Bpk Teguh Supriyanto. Mulanya bpk Teguh mengungkap fenomena-fenomena sosial masyarakat yang terjadi sekarang ini. Beliau menggambarkan bahwa telah terjadi kemerosotan karakter yang mengakibatkan struktur sosial berubah, sikap keluarga terhadap bahasa yang semakin hilang, perubahan selera dan persoalan identitas. Padahal bahasa jawa itu sangat mempengaruhi aspek kehidupan, sepeti; ajining diri saka lathi, alusing budi iku saka basa, identitas, prinsip hormat dan rukun, dsb. Bpk Teguh juga mengatakan bahwa para pendidik bahasa Jawa tidak usah khawatir karena menurut perda no 9 thn 2012 tentang bahasa, sastra, dan aksara Jawa, serta perda no 4 thn 2012 tentang pendidikan yang di dalamnya memuat pasal pembelajaran bahasa Jawa yang harus diajarkan mulai dari jenjang sekolah dasar sampai menengah atas, menjadikan bahasa Jawa tidak mungkin dihilangkan dari kompetensi anak didik di sekolah dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Kurang lebihnya seperti itu yang dikatakan oleh bpk Teguh.
Pembicara kedua adalah bpk Suwarna, pertama-tama beliau menampilkan berbagai aksi protes para pemerhati budaya, mahasiswa dan dosen atas isu pemerintah yang akan memusnahkan bahasa daerah di kurikulum 2013 kepada DPR RI. Dari situ, beliau memaparkan bahwa kami para pendidik dan pemerhati budaya mendapatkan secerah harapan, yaitu bahwa Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh menyangkal isu bahwa bahasa daerah akan dimusnahkan dalam kurikulum, beliau mengatakan bahwa pemerintahan memberi kewenangan sepenuhnya kepada daerah untuk mengelola muatan lokal. Banyak juga yang berkomentar bahwa bahasa daerah tidak akan dihilangkan dari Kurikulum 2013, sehingga bpk Suwarna berkata kepada para peserta seminar untuk tenang saja, karena bahasa jawa tak akan pernah dihapuskan. Beliau juga memaparkan perubahan yang terjadi di kurikulum, bahwa jam mengajar para guru bahasa jawa tidak akan sama dengan yang dulu karena harus berbagi dengan seni budaya lainnya.
Bpk Suwarno dan para pendidik yang lain ingin mengusulkan matapelajaran bahasa jawa menjadi muatan lokal wajib kepada Gubernur, yang kedua usulan jam mengajar muatan lokal bahasa Jawa 2 jam/minggu serta harus adil dengan Seni-Budaya juga harus 2 jam/minggu, usulan tersebut hampir selesai pada Mei 2013, jadi pada Juli 2013 muatan lokal bahasa Jawa di Kurikulum 2013 sudah bisa berjalan.
Ketika para pembicara sudah memaparkan semua apa yang menjadi ganjalan para guru, dosen dan pemerhati budaya maka dibukalah sesi tanya jawab. Kebanyakan para guru-guru yang bertanya kepada pembicara, karena mereka mungkin yang sedang mempunyai permasalahan di sekolah tempat mereka bekeja. Hingga waktu sudah habis, masih banyak guru-guru yang ingin sekali bertanya, sehingga pembicara mau menjawabnya setelah acara seminar selesai. Acara selesai sekitar pukul 13.00 yang menghasilkan angin segar bagi para guru bahasa Jawa dan mahasiswa calon guru bahasa Jawa.
Mungkin hanya itu yang dapat saya ceritakan kembali apa yang saya dapat pada seminar regional “Basa Jawa ing Kurikulum 2013”. Tetap semangat para pendidik bangsa! Dengan melestarikan kebudayaan bahasa daerah, maka kita tidak akan kehilangan jati diri bangsa kita. Salam budaya.! :D
Menawi wonten klenta-klentunipun, kula nyuwun agunging pangaksami. Nuwun :)

3 komentar:

Aniq Failasi mengatakan...

siaaaap, sudah aku baca buk, ;)

Anisah Farah mengatakan...

haha...sip bu... :)
Jadi kita sebagai calon guru bahasa Jawa gak usah galau lagi ya. :D

Untung Budiarto mengatakan...

terima kasih banyak mba nisa yg udah kasih informasi, sangat bermanfaat :)